Rabu, 08 Oktober 2014
KHUTBAH JUM'AT
Wasiat Nabi di Haji Wada’
Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ .
Ketahuilah wahai ibadallah,
Sesungguhnya waktu-waktu haji adalah waktu yang agung dan penuh keutamaan. Pada hari itu orang-orang beriman memperhatikan kebaikan untuk diri mereka. Mereka mencari perbekalan dengan sebaik-baik perbekalan. Dan Allah Ta’ala berfirman dalam permasalahan jamaah haji,
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Pelajaran dan hikmah dari ibadah haji adalah pelajaran dan hikmah yang agung yang sangat diinginkan oleh orang-orang yang menginginkan kebaikan. Kita tancapkan azam pada diri kita, baik yang sudah atau sedang menunaikan haji ataupun yang belum berhaji, untuk memperoleh kemanfaatan dari musim-musim yang utama dan waktu-waktu yang mulia ini. Kita ambil faidahnya dengan membekali diri dengan sebaik-baik perbekalan.
Ibadallah,
Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hayatnya menunaikan ibadah haji yang masyhur dikenal dengan nama haji wada’. Saat melaksanakan haji tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan khalayak. Beliau berkhutbah tidak hanya sekali. Beliau berkhutbah di hari Arafah, di hari nahr, dan di pertengahan hari tasyriq. Dalam khutbah tersebut beliau menjelaskan tentang hukum-hukum suatu permasalahan dan juga menjelaskan adab-adab yang luhur. Beliau menjelaskan tentang prinsip-prinsip syariat, pokok-pokok keimanan, adab-adab, dan agama yang mulia ini. Beliau berwasiat, memberi nasihat, dan memberi pengarahan sehingga ketika beliau meninggalkan umat ini, beliau telah meninggalkannya dalam keadaan terang-benderang, malamnya bagaikan siang, dan tidaklah orang yang berpaling dari apa yang beliau ajarkan kecuali akan binasa. Khutbah itu adalah khutbah wada’, khutbah perpisahan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan umatnya. Beliau memberi nasihat yang mendalam, memberikan pengajaran yang penuh hikmah, dan menjelaskan perkara dengan sejelas-jelasnya. Karena itu ibadallah, sangat penting bagi kita memperhatikan isi dari khutbah dan nasihat beliau di haji wada’ tersebut.
Ibdallah,
Hal yang paling ditekankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbah haji wada’ adalah menjaga darah (tidak menumpahkan darah), harta, dan kehormatan. Berkali-kali hal ini beliau ulang-ulang wasiat ini dalam khutbah haji wada’.
Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, ia mengatakan ketika matahari mulai tergelincir pada hari Arafah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah,
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah dan harta kalian haram seperti sucinya hari kalian ini di negeri kalian ini dan di bulan kalian ini.”
Pada keesokan harinya, yakni di hari nahr, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali berkhutbah dengan nasihat yang mendalam. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam khutbahnya,
أَيُّ يَوْمٍ هَذَا ؟ قَالُوا يَوْمٌ حَرَامٌ ، قَالَ فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا ؟ قَالُوا بَلَدٌ حَرَامٌ ، قَالَ فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا ؟ قَالُوا شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فَأَعَادَهَا مِرَارًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ
“Hari apakah ini? Mereka menjawab: hari suci. Beliau bertanya lagi: Di negeri apakah ini? Mereka menjawab : Negeri suci (tanah suci). Beliau tanya: Pada bulan apa ini? Mereka menjawab: Bulan suci. Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram seperti sucinya hari kalian ini di negeri kalian ini dan di bulan kalian ini. Beliau ulang beberapa kali.” Kemudian beliau mendongakkan kepalanya dan berdoa, “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ اسْتَنْصِتْ النَّاسَ – أي أطلب منهم أن يصغوا وأن ينصتوا – ثُمَّ قَالَ عليه الصلاة والسلام : لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berujar kepadaku ketika haji wada’; “Tolong suruhlah orang-orang diam, jangan kalian sepeninggalku menjadi kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian lain.” (HR. Bukhari).
Beliau menekankan perkara yang besar ini dan memperingatkan umatnya akan besarnya dosa perbuatan tersebut. Bahkan dalam hadits lain beliau menyebut bahwa membunuh seorang muslim lainnya adalah kekufuran. Memang bukan termasuk kufur besar, yang membuat seseorang keluar dari Islam. Akan tetapi hal itu bukanlah bagian dari ahlul iman, bukanlah perbuatan otang-orang yang beriman. Perbuatan tersebut adalah bagian dari orang kafir dan perbuatan mereka.
Di dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Fadhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan khalayak saat haji wada’,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ
“Aku akan kabarkan kepada kalian bahwa sosok mukmin yang sejati itu adalah seorang muslim yang orang lain bisa merasa aman dari gangguannya dalam hal harta dan diri mereka. Sedangkan seorang muslim yang sejati adalah orang yang orang lain bisa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Adapun seorang mujahid adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam menundukkan hawa nafsunya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Dan seorang muhajir/orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa-dosa.”
Renungkanlah wahai jamaah sekalian, semoga Allah menjaga kita semua. Renungkanlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kaitan erat keislaman dan keimanan dengan menjaga darah dan harta seorang muslim.
Dari Salamah bin Qais al-Asyja’i radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan orang-orang pada haji wada’
أَلَا إِنَّمَا هُنَّ أَرْبَعٌ – يعني أموراً خطيرة وآثاماً كبيرة فاحذروها يا أمة الإسلام – أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَلَا تَزْنُوا ، وَلَا تَسْرِقُوا
“Ketahuilah sesungguhnya ada empat hal –yaitu dosa-dosa besar yang harus diwaspadai- janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, jangan juga membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang benar, jangan berzina, dan jangan mencuri.” (HR. Ahmad).
Oleh karena itu, perhatikanlah perkara-perkara ini.
Ibadallah,
Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah tanpa alasan yang dibenarkan, ini adalah bentuk penghilangan jiwa atau nyawa yang semestinya dijaga. Zina adalah melanggar perintah untunk menjaga kehormatan. Dan mencuri adalah bentuk pelanggaran terhadap perintah untuk menjaga harta. Perhatikanlah makna-makna ini dan renungkanlah kembali hadits Nabi dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berikut ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram seperti sucinya hari kalian ini di negeri kalian ini dan di bulan kalian ini.”
Ibadallah,
Penjagaan terhadap darah, harta, dan kehormatan akan membuahkan hati yang bersih, perbaikan umat, dan persatuan barisan umat Islam. Hal itu juga membuahkan jauhnya umat dari sifat dengki, saling menikam , dan khianat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan hal itu dalam khutbah perpisahannya. Dari Jabir bin Muth’im radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَيْفِ مِنْ مِنًى فَقَالَ : نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرُ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ؛ ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُؤْمِنٍ : إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ ، وَالنَّصِيحَةُ لِوُلَاةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di kaki bukit Mina seraya bersabda, ‘Semoga Alloh menyenangkan seseorang yang mendengarkan perkataanku lalu menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa berita ilmu tetapi ia bukanlah orang yang berilmu, dan beberapa banyak orang yang membawa ilmu kepada orang yang lebih berilmu darinya.’ Tiga perkara dimana hati orang beriman tidak akan berkhianat kepadanya: mengikhlaskan perbuatannya hanya karena Allah, memberi nasehat kepada penguasa kaum muslimin dan bergabung dengan jamaah (kelompok) mereka. Karena doa mereka akan selalu menyelimuti (meliputi) dibelakang mereka.”
Ketiga permasalahan ini hendaknya selalu terbetik di hati seorang muslim, hatinya selalu siap mengamalkannya. Berniat ikhlas karena Allah dalam setiap amalannya, memberi nasihat kepada penguasa dan tidak mengkhianati mereka, dan menjaga persatuan umat di bawah kepemimpinan mereka. Ketiga hal ini tidaklah terwujud kecuali dengan adanya persatuan dan kesatuan umat. Dan umat tidak akan bersatu kecuali dengan adanya pemimpin. Dan tidak ada artinya pemimpin kalau tidak ditaati.
Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَقَالَ : (( اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ ، وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ ، وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ ، وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ ؛ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada haji wada’, beliau bersabda, ‘Bertakwalah kepada Alla, Rab kalian. Kerjakanlah shalat lima waktu. Berpuasalah di bulan Ramadhan. Tunaikanlah zakat harta kalian. Dan taatilah para pemimpin kalian. Niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Rab kalian’.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menaati para pemimpin karena di dalamnya terdapat maslahat yang besar. Dan dalam kesempatan yang lain di haji wada’, beliau kembali menekankan hal ini.
وَلَوْ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا
“Seandainya yang memerintah kalian seorang budak Habsyi berdasarkan Kitabullah, maka dengar dan taatilah.” (HR. Muslim).
Ibadallah,
Ini adalah nasihat yang sangat berharga dan pengarahan yang penuh berkah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah al-amin, yang terpercaya. Pasanglah telinga kita, siapkan hati untuk memahaminya, dan praktekkan dalam kehidupan kita niscaya kita akan sukses, masuk ke dalam surge Rabb kita.
Ketika kita meresapi khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang luas cakupannya ini, kita akan mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa permasalahan ini adalah permasalahan yang sangat serius. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan arahan dan nasihat kepada umat ini dengan nasihat yang mendalam.
Ibadallah,
Setelah kita mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang menjaga darah, harta, dan kehormatan, apa yang akan kita katakana pada perbuatan-perbuatan yang melanggar batasan yang telah beliau tetapkan tersebut?
اَللَّهُمَّ بَصِرْنَا بِدِيْنِكَ ، وَوَفِقْنَا لِاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، وَأَعِذْنَا مِنَ الْفِتَنِ كُلِّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَأَنْتَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَأَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.
Rabu, 01 Oktober 2014
Senin, 08 September 2014
Rabu, 27 Agustus 2014
CONTOH RPP KLS X PAI SMA K 13
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )
Satuan
Pendidikan : SMA N 4 Sungai penuh
Kelas
/ Semester : X / 1
Mata
Pelajaran : Pendidikan Agama
Islam
Tema : Kontrol diri, Prasangka baik dan Ukhuwah
Alokas
Waktu : 9 X 45 Menit (3
pertemuan)
A.
Kompetensi
Inti :
(K2) : Mengembangkan perilaku (jujur,
disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong
royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro aktif) dan menunjukan sikap sebagai
bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
(K3) :Memahami dan menerapkan
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian
yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
(K4) :Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan
ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
B.
Kompetensi Dasar
3.1 Menganalisis isi kandungan QS.
Al-Anfal (8) : 72, QS. Al-Hujurat (49) : , dan QS.Al-Hujurat (49) : 10 ; serta
hadits tentang control diri (Mujahadah an- nafs),
prasangka baik (Husnuzzhan) dan
persaudaraan (al-Ukhuwah)
3.2.
Memahami manfaat dan hikmah kontrol diri (Mujahadah an-nafs), prasangka
baik (Husnuzzhan), dan
persaudaraan (al-Ukhuwah).
4.1.1 Membaca QS.
Al-Anfal (8) : 72, QS. Al-Hujurat (49) : 12 , dan QS.Al-Hujurat (49) : 10
sesuai dengan kaidah tajwid dan makhrajul huruf.
4.1.2 Mendemonstrasikan
hafalan QS. Al-Anfal (8) 72, QS. Al-Hujurat (49) : 12, dan QS. Al-Hujurat (49)
: 10.
C.
Indikator PencapaianKompetensi
1.
Menganalisis isi kandungan QS.
Al-Anfal (8) : 72, QS. Al-Hujurat (49) : , dan QS.Al-Hujurat
(49) : 10 ; serta hadits tentang control diri (Mujahadah an- nafs),
prasangka baik (Husnuzzhan) dan
persaudaraan (al-Ukhuwah)
2.
Memahami manfaat dan hikmah kontrol diri (Mujahadah an-nafs),
prasangka baik (Husnuzzhan), dan
persaudaraan (al-Ukhuwah).
3.
Membaca QS. Al-Anfal (8) : 72, QS.
Al-Hujurat (49) : 12 ,
dan QS.Al-Hujurat (49) : 10
sesuai dengan kaidah tajwid dan makhrajul huruf.
- Mendemonstrasikan hafalan QS. Al-Anfal (8) 72, QS. Al-Hujurat (49) : 12, dan QS. Al-Hujurat (49) : 10.
D.
TujuanPembelajaran
1.
Menganalisis isi kandungan QS.
Al-Anfal (8) : 72, QS. Al-Hujurat (49) : , dan QS.Al-Hujurat (49) : 10 ; serta
hadits tentang control diri (Mujahadah an- nafs),
prasangka baik (Husnuzzhan) dan
persaudaraan (al-Ukhuwah)
2.
Memahami manfaat dan hikmah kontrol diri (Mujahadah an-nafs),
prasangka baik (Husnuzzhan), dan
persaudaraan (al-Ukhuwah).
3.
Membaca QS. Al-Anfal (8) : 72, QS.
Al-Hujurat (49) : 12 ,
dan QS.Al-Hujurat (49) : 10
sesuai dengan kaidah tajwid dan makhrajul huruf.
4.
Mendemonstrasikan hafalan QS. Al-Anfal (8) 72, QS. Al-Hujurat (49) : 12,
dan QS. Al-Hujurat (49) : 10.
E.
Materi Pembelajaran
a.
Dalil al-Qur’an
-
QS. Al-Anfal (8) : 72

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang ber-iman dan berhijrah serta berjihad de-ngan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan
orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi perto-longan (kepada
Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada
kewajiban sedikit pun bagimu melin-dungi
mereka, sampai mereka berhij-rah. (Tetapi) jika mereka meminta
pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan
pertolongan kecuali ter-hadap kaum yang telah terikat perjan-jian antara kamu dengan
mereka. Dan Allah Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan.
-
QS.
Al-Hujurat/49 : 10

Artinya : orang-orang beriman itu
Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara
kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
-
QS.
Al-Hujurat/49 : 12
Artinya
: “Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena
sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang
dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang
suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima
taubat lagi Maha Penyayang”
b.
Hikmah
Mujahadah An-Nafs (Kontrol Diri)
o
Tidak tergesa –
gesa melakukan sesuatu.
Mujahadah al-nafs adalah perjuangan sungguh-sungguh atau jihad melawan egoisme (nafsu pribadi).
Rasulullah bersabda :
قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْجِهَادُ اْلأَكْبَرِ؟ قاَلَ اَلْجِهَادُ فِى النَّفْسِ
Artinya
: “Telah kembalilah kita dari sebuah perlawanan yang kecil (perang Badar dengan
orang Kaum Kafir Quraisy waktu itu), menuju peperangan yang agung, bertanyalah
para sahabat: Ya Rasulallah, apa yang engkau maksudkan peperangan yang besar,
rasul menjawab: Perang melawan hawa nafsu”.
c. Hikmah Prasangka Baik
1) Percaya diri
2) Meningkatkan focus.
3) Lebih sukses dalam hidup
4)
Akan selalu
dihargai dan dihormati orang lain.
d. Hikmah Ukhuwah
1) Mewujudkan persaudaraan,
2) Menjaga persatuan dan
kesatuan
3) Menebarkan sifat rahmat
bagi sesama manusia.
4) Hidup menjadi mudah.
F.
Model dan MetodePembelajaran
a.
Model
Pembelajaran : Inkuiri
b.
Metode
Pembelajaran : Ceramah, Diskusi, Tanya jawab, dan Praktik
G.
Media dan Alat Pembelajaran
a.
Media Pembelajaran : Lembar Kerja, Power
Point, al-Qur’an Digital
b.
Alat Pembelajaran : Laptop dan LCD
H.
SumberBelajar
1.
Tafsir al-Qur’an dan buku-buku
hadits
2.
Kitab
asbabunnuzul dan asbabul wurud
3.
Buku pegangan siswa PAI SMA/SMK kelas X
I.
Langkah-langkah Pembelajaran
Pertemuan ke 1
No.
|
Kegiatan
|
Waktu
|
1.
|
Pendahuluan
1.
Memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan basmalah dan
kemudian berdoa bersama.
2.
Peserta didik menyiapkan kitab suci al-Qur’an
3.
Secara bersama bertadarus al-Qur’an (selama 5-10 menit)
4.
Menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan
kompetensi inti dan kompetensi dasar serta indikator yang akan dicapai.
5.
Menanyakan materi yang pernah diajarkan (Appersepsi).
|
15 menit
|
2.
|
Kegiatan Inti
a.
Mengamati
ü
Menyimak bacaan Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10.
ü
Mencermati kaidah tajwid dan makharijul huruf dalam Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10.
b.
Menanya
ü
Menanyakan tentang cara menghafal Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10,
ü
Menanyakan kaidah tajwid dan makharijul huruf dalam Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10, serta hadits terkait.
c.
Mengeksperimen/Mengexplorasi
ü
Mengidentifikasi kaidah tajwid dan makharijul huruf dalam Q.S. al-Anfal
(8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10;
ü
Menganalisis kaidah tajwid dan makharijul huruf dalam Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10;
d.
Asosiasi
Membuat kesimpulan kaidah tajwid dan makharijul
huruf dalam Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10
e.
Komunikasi.
ü
Menpresentasikan kaidah tajwid dan makharijul huruf dalam Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10
ü
Menyampaikan hasil diskusi tentang kaidah tajwid dan makharijul huruf
dalam Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10 serta hadits terkait.
|
100 menit
|
3.
|
Penutup
ü
Pendidik meminta agar para peserta didik sekali lagi membaca Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10 sebagai penutup materi pembelajaran;
ü
Pendidik meminta agar para peserta didik membiasakan membaca Q.S. al-Anfal
(8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10 dalam shalat;
ü
Pendidik menutup/mengakhiri pelajaran tersebut dengan membaca
hamdalah/doa;
ü
Pendidik mengucapkan salam kepada para peserta didik sebelum keluar
kelas dan peserta didik menjawab salam.
|
20 menit
|
Pertemuan ke 2
No.
|
Kegiatan
|
Waktu
|
1.
|
Pendahuluan
1.
Memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan basmalah dan
kemudian berdoa bersama.
2.
Peserta didik menyiapkan kitab suci al-Qur’an
3.
Secara bersama bertadarus al-Qur’an (selama 5-10 menit)
4.
Menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan
kompetensi inti dan kompetensi dasar serta indikator yang akan dicapai.
5.
Menanyakan materi yang pernah diajarkan (Appersepsi).
|
15 menit
|
2.
|
Kegiatan Inti
a.
Mengamati
ü
Menyimak bacaan Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10.
ü
Mencermati isi kandungan Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10.
b.
Menanya
ü
Menanyakan tentang cara menghafal Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10,
ü
Menanyakan isi kandungan Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10, serta hadits terkait.
c.
Mengeksperimen/Mengexplorasi
ü
Mengidentifikasi sifat-sifat terpuji yag terkandung pada Q.S. al-Anfal
(8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10;
ü
Menganalisis isi kandungan Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10;
d.
Asosiasi
Membuat kesimpulan isi kandungan Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10
e.
Komunikasi.
ü
Menpresentasikan isi kandungan Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10
ü
Menyampaikan hasil diskusi tentang isi kandungan Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10 serta hadits terkait.
|
100 menit
|
3.
|
Penutup
ü
Pendidik meminta agar para peserta didik sekali lagi membaca Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10 sebagai penutup materi
pembelajaran;
ü
Pendidik meminta agar para peserta didik membiasakan membaca Q.S. al-Anfal
(8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10 dalam shalat;
ü
Pendidik menutup/mengakhiri pelajaran tersebut dengan membaca
hamdalah/doa;
ü
Pendidik mengucapkan salam kepada para peserta didik sebelum keluar
kelas dan peserta didik menjawab salam.
|
25 menit
|
Pertemuan ke 3
No.
|
Kegiatan
|
Waktu
|
1.
|
Pendahuluan
1.
Memberi salam dan memulai pelajaran dengan mengucapkan basmalah dan
kemudian berdoa bersama.
2.
Peserta didik menyiapkan kitab suci al-Qur’an
3.
Secara bersama bertadarus al-Qur’an (selama 5-10 menit)
4.
Menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan
kompetensi inti dan kompetensi dasar serta indikator yang akan dicapai.
5.
Menanyakan materi yang pernah diajarkan (Appersepsi).
|
15 menit
|
2.
|
Kegiatan Inti
a.
Mengamati
ü
Menyimak bacaan Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10.
ü
Mencermati manfaat dan hikmah kontrol diri (mujahadah an-nafs),
prasangka baik (husnuzzhan) dan persaudaraan (ukhuwah) melalui tayangan video atau
media pembelajaran lainnya.
b.
Menanya
ü
Menanyakan tentang cara menghafal Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10,
ü
Menanyakan manfaat dan hikmah dari kontrol diri (mujahadah
an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan) dan persaudaraan (ukhuwah) yang terdapat pada Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10, serta hadits terkait.
c.
Mengeksperimen/Mengexplorasi
ü
Mengidentifikasi sifat-sifat terpuji yag terkandung pada Q.S. al-Anfal
(8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10;
ü
Menganalisis manfaat dan hikmah kontrol diri pada Q.S. al-Anfal (8): 72, prasangka baik pada QS. al-Hujurat (49): 12, dan Ukhuwah pada QS. al-Hujurat (49): 10;
d.
Asosiasi
ü
Membuat
kesimpulan manfaat
dan hikmah kontrol diri pada Q.S. al-Anfal (8): 72, prasangka baik pada QS. al-Hujurat (49): 12, dan Ukhuwah pada QS. al-Hujurat (49): 10;
e.
Komunikasi.
ü
Menpresentasikan manfaat dan hikmah kontrol diri pada Q.S. al-Anfal (8): 72, prasangka baik pada QS. al-Hujurat (49): 12, dan Ukhuwah pada QS. al-Hujurat (49): 10;
ü
Menyampaikan hasil diskusi tentang manfaat dan hikmah sifat terpuji
yang terdapat pada Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10 serta hadits terkait.
|
100 menit
|
3.
|
Penutup
ü
Pendidik meminta agar para peserta didik sekali lagi membaca Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10 sebagai penutup materi
pembelajaran;
ü
Pendidik meminta agar para peserta didik membiasakan membaca Q.S. al-Anfal
(8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat (49): 10 dalam shalat;
ü
Pendidik menutup/mengakhiri pelajaran tersebut dengan membaca
hamdalah/doa;
ü
Pendidik mengucapkan salam kepada para peserta didik sebelum keluar
kelas dan peserta didik menjawab salam.
|
25 menit
|
J.
Penilaian Hasil Belajar
1.
Tes (tulis)
NO.
|
Soal
|
Kunci
Jawaban
|
1
|
Identifikasikan hukum
bacaan tajwid dalam Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat
(49): 10
|
|
2
|
Jelaskan isi kandungan
yang terdapat dalam Q.S. al-Anfal (8): 72, al-Hujurat (49): 12, dan al-Hujurat
(49): 10
|
1) Isi Kandungan Qs. Al-Anfal:72 berisi perintah
untuk hijrah dan berjihad.
2) Isi Kandungan Qs. Al Hujurat: 12 berisi
larangan untuk berprasangka buruk, mencari kesalahan orang lain dan
menggunjing
3) Isi Kandungan Qs. Al Hujurat: 10 berisi
perintah untuk saling bersaudara.
|
3
|
Jelaskan manfaat dan
hikmah dari kontrol diri (mujahadah
an-nafs) !
|
Tidak tergesa-gesa
dalam menghadapi sesuatu
|
4
|
Jelaskan manfaat dan
hikmah dari prasangka baik (husnuzzhan)
!
|
Terhindar dari berburuk sangka,
akan selalu dihargai dan dihormati orang lain.
|
5
|
Jelaskan manfaat dan
hikmah dari persaudaraan (ukhuwah) !
|
1) Mewujudkan persaudaraan,
2) Menjaga persatuan dan
kesatuan
3) Menebarkan sifat rahmat
bagi sesama manusia.
4) Hidup menjadi mudah.
|
2.
Tes Lisan
No
|
Nama Siswa
|
Aspek
|
Jumlah
|
NILAI
|
||
0 -100
|
0 – 100
|
0 – 100
|
||||
Kelancaran
|
Ketepatan Tajwid
|
Irama Tartil
|
||||
1
|
||||||
2
|
||||||
3
|
||||||
4
|
||||||
5
|
||||||
6
|
||||||
·
Tugas : mengidentifikasi
manfaat dan hikmah perilaku kontrol
diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan) dan persaudaraan
(ukhuwah);
·
Observasi
(mengamati perilaku kontrol diri (mujahadah
an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan) dan persaudaraan (ukhuwah) terhadap teman sejawat atau orang lain;
·
Portofolio
(tugas dan observasi dikerjakan di lembar kerja dan diserahkan kepada pendidik).
Sungai Penuh
, 3 agustus 2014
Mengetahui:
Kepala Sekolah
SUTARSO,SPd
NIP: 19550201 198012 1 001
|
Guru Mapel
Drs.AFLIZAR
NIP: 196712221996011001
|
Langganan:
Postingan (Atom)








